KERAJAAN SINGASARI
Kerajaan Singasari
adalah sebuah kerajaan Hindu Buddha di Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok
pada tahun 1222 M. Lokasi kerajaan ini sekarang diperkirakan di daerah
Singosari, Malang.

Kerajaan Singasari hanya sempat
bertahan 70 tahun sebelum mengalami keruntuhan. Kerajaan ini beribu kota di
Tumapel yang terletak di kawasan bernama Kutaraja. Pada awalnya, Tumapel
hanyalah sebuah wilayah kabupaten yang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Kadiri
dengan bupati bernama Tunggul Ametung. Tunggul Ametung dibunuh oleh Ken Arok
yang merupakan pengawalnya.
Raja Raja Yang Memimpin Singasari
1.
Ken Arok (1222–1227 M)
2. Anusapati (1227–1248
M)
3.
Tohjoyo (1248 M)
4. Ranggawuni (1248–1268
M)
5.
Kertanegara (1268-1292 M)
Sistem Pemerintahan Kerajaan
Singasari
Kehidupan Politik
Kerajaan Singasari
1) Ken Arok (1222–1227).
Pendiri Kerajaan Singasari ialah Ken Arok yang menjadi Raja
Singasari dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi. Munculnya Ken Arok
sebagai raja pertama Singasari menandai munculnya suatu dinasti baru, yakni
Dinasti Rajasa (Rajasawangsa) atau Girindra (Girindrawangsa). Ken Arok hanya
memerintah selama lima tahun (1222–1227). Pada tahun 1227 Ken Arok dibunuh oleh
seorang suruhan Anusapati (anak tiri Ken Arok). Ken Arok dimakamkan di
Kegenengan dalam bangunan Siwa Buddha.
2) Anusapati (1227–1248).
Dengan meninggalnya Ken Arok maka takhta Kerajaan Singasari
jatuh ke tangan Anusapati. Dalam jangka waktu pemerintahaannya yang lama,
Anusapati tidak banyak melakukan pembaharuan-pembaharuan karena larut dengan
kesenangannya menyabung ayam.
Peristiwa kematian Ken Arok akhirnya terbongkar dan sampai
juga ke Tohjoyo (putra Ken Arok dengan Ken Umang). Tohjoyo mengetahui bahwa
Anusapati gemar menyabung ayam sehingga diundangnya Anusapati ke Gedong Jiwa (
tempat kediamanan Tohjoyo) untuk mengadakan pesta sabung ayam. Pada saat
Anusapati asyik menyaksikan aduan ayamnya, secara tiba-tiba Tohjoyo mencabut
keris buatan Empu Gandring yang dibawanya dan langsung menusuk Anusapati.
Dengan demikian, meninggallah Anusapati yang didharmakan di Candi Kidal.
3) Tohjoyo (1248)
Dengan meninggalnya Anusapati maka takhta Kerajaan Singasari
dipegang oleh Tohjoyo. Namun, Tohjoyo memerintah Kerajaan Singasari tidak lama
sebab anak Anusapati yang bernama Ranggawuni berusaha membalas kematian
ayahnya. Dengan bantuan Mahesa Cempaka dan para pengikutnya, Ranggawuni
berhasil menggulingkan Tohjoyo dan kemudian menduduki singgasana.
4) Ranggawuni (1248–1268)
Ranggawuni naik takhta Kerajaan Singasari pada tahun 1248
dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardana oleh Mahesa Cempaka (anak dari Mahesa
Wongateleng) yang diberi kedudukan sebagai ratu angabhaya dengan gelar
Narasinghamurti. Ppemerintahan Ranggawuni membawa ketenteraman dan kesejahteran
rakyat Singasari.
Pada tahun 1254, Wisnuwardana mengangkat putranya yang
bernama Kertanegara sebagai yuwaraja (raja muda) dengan maksud mempersiapkannya
menjadi raja besar di Kerajaan Singasari. Pada tahun 1268 Wisnuwardana
meninggal dunia dan didharmakan di Jajaghu atau Candi Jago sebagai Buddha
Amogapasa dan di Candi Waleri sebagai Siwa.
5) Kertanegara (1268–-1292).
Kertanegara adalah Raja Singasari terakhir dan terbesar
karena mempunyai cita-cita untuk menyatukan seluruh Nusantara. Ia naik takhta
pada tahun 1268 dengan gelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Dalam
pemerintahannya, ia dibantu oleh tiga orang mahamentri, yaitu mahamentri
i hino, mahamentri i halu, dan mahamenteri i
sirikan.
Untuk dapat mewujudkan gagasan penyatuan Nusantara, ia mengganti pejabat-pejabat yang kolot dengan yang baru, seperti Patih Raganata digantikan oleh Patih Aragani. Banyak Wide dijadikan Bupati di Sumenep (Madura) dengan gelar Aria Wiaraja.
Untuk dapat mewujudkan gagasan penyatuan Nusantara, ia mengganti pejabat-pejabat yang kolot dengan yang baru, seperti Patih Raganata digantikan oleh Patih Aragani. Banyak Wide dijadikan Bupati di Sumenep (Madura) dengan gelar Aria Wiaraja.
Setelah Jawa dapat diselesaikan, kemudian perhatian
ditujukan ke daerah lain. Kertanegara mengirimkan utusan ke Melayu yang dikenal
dengan nama Ekspedisi Pamalayu 1275 yang berhasil menguasai Kerajaan Melayu.
Hal ini ditandai dengan pengirimkan Arca Amogapasa ke Dharmasraya atas perintah
Raja Kertanegara. Selain menguasai Melayu, Singasari juga menaklukan Pahang,
Sunda, Bali, Bakulapura (Kalimantan Barat), dan Gurun (Maluku). Kertanegara
juga menjalin hubungan persahabatan dengan raja Champa,dengan tujuan untuk
menahan perluasaan kekuasaan Kubilai Khan dari Dinasti Mongol.
Ekspedisi
Pamalayu
selain untuk memperluas wilayah kekuasaan Singasari, juga bermaksud
membendung ambisi Dinasti Mongol (Kubilai Khan) di utara yang
ingin menundukkan negara-negara sebelah selatan termasuk Singasari.
Dengan menundukkan Kerajaan Melayu, berarti Singasari memiliki
benteng pertahanan kedua untuk menghadang laju ekspansi bangsa
Mongol tersebut.
Kubilai Khan menuntut raja-raja di daerah selatan termasuk
Indonesia mengakuinya sebagai yang dipertuan. Kertanegara menolak dengan
melukai nuka utusannya yang bernama Mengki. Tidakan Kertanegara ini membuat
Kubilai Khan marah besar dan bermaksud menghukumnya dengan mengirimkan
pasukannya ke Jawa.
Mengetahui sebagian besar pasukan Singasari dikirim untuk
menghadapi serangan Mongol maka Jayakatwang (Kediri) menggunakan kesempatan
untuk menyerangnya. Serangan dilancarakan dari dua arah, yakni dari arah utara
merupakan pasukan pancingan dan dari arah selatan merupakan pasukan inti.
Pasukan Kediri dari arah selatan dipimpin langsung oleh
Jayakatwang dan berhasil masuk istana dan menemukan Kertanagera berpesta pora
dengan para pembesar istana. Kertanaga beserta pembesar-pembesar istana tewas
dalam serangan tersebut.
Ardharaja berbalik memihak kepada ayahnya (Jayakatwang),
sedangkan Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri dan menuju Madura dengan
maksud minta perlindungan dan bantuan kepada Aria Wiraraja. Atas bantuan Aria
Wiraraja, Raden Wijaya mendapat pengampunan dan mengabdi kepada Jayakatwang.
Raden Wijaya diberi sebidang tanah yang bernama Tanah Tarik oleh Jayakatwang
untuk ditempati.
Dengan gugurnya Kertanegara maka Kerajaan Singasari dikuasai
oleh Jayakatwang. Ini berarti berakhirnya kekuasan Kerajaan Singasari. Sesuai
dengan agama yang dianutnya, Kertanegara kemudian didharmakan sebagai Siwa
Buddha (Bairawa) di Candi Singasari. Arca perwujudannya dikenal dengan nama
Joko Dolog yang sekarang berada di Taman Simpang, Surabaya.
Kehidupan Social
Kerajaan Singasari
kehidupan social
masyarakat Singasari mengalami masa naik turun. Ketika Ken Arok menjadi Akuwu
di Tumapel, dia berusaha meningkatkan kehidupan masyarakatnya. Banyak
daerah-daerah yang bergabung dengan Tumapel. Namun pada pemerintahan Anusapati,
kehidupan sosial masyarakat kurang mendapat perhatian karena ia larut dalam
kegemarannya menyabung ayam. Pada masa Wisnuwardhana kehidupan sosial
masyarakatnya mulai diatur rapi. Dan pada masa Kertanegara, ia meningkatkan
taraf kehidupan masyarakatnya. Upaya yang ditempuh Raja Kertanegara dapat
dilihat dari pelaksanaan politik dalam negeri dan luar negeri.
Politik Dalam Negeri:
- Mengadakan pergeseran pembantu-pembantunya seperti Mahapatih Raganata digantikan oleh Aragani.
- Berbuat baik terhadap lawan-lawan politiknya seperti mengangkat putra Jayakatwang (Raja Kediri) yang bernama Ardharaja menjadi menantunya.
- Memperkuat angkatan perang.
Politik Luar Negeri:
- Melaksanakan Ekspedisi Pamalayu untuk menguasai Kerajaan melayu serta melemahkan posisi Kerajaan Sriwijaya di Selat Malaka.
- Menguasai Bali.
- Menguasai Jawa Barat.
- Menguasai Malaka dan Kalimantan.
Kehidupan Kebudayaan Kerajaan Singasari
Berdasarkan segi
budaya, ditemukan candi-candi dan patung-patung diantaranya candi Kidal, candi
Jago, dan candi Singasari. Sedangkan patung-patung yang ditemukan adalah patung
Ken Dedes sebagai Dewa Prajnaparamita lambing kesempurnaan ilmu, patung
Kertanegara dalam wujud patung Joko Dolog, dan patung Amoghapasa juga merupakan
perwujudan Kertanegara (kedua patung kertanegara baik patung Joko Dolog maupun
Amoghapasa menyatakan bahwa Kertanegara menganut agama Buddha beraliran
Tantrayana).
Masa Kejayaan
Kerajaan Singasari
Kertanagara
ialah raja terakhir & raja terbesar dlm sejarah Singhasari [1268-1292]. Ia
ialah raja pertama yg mengalihkan wawasannya ke luar Jawa. Pada tahun 1275 ia
mengirim pasukan Ekspedisi Pamalayu untuk menjadikan Sumatra sebagai benteng
pertahanan dlm menghadapi ekspansi bangsa Mongol. 
Saat
itu penguasa Sumatra ialah Kerajaan Dharmasraya [kelanjutan dari
Kerajaan Malayu]. Kerajaan ini akhirnya dianggap telah ditundukkan, dengan
dikirimkannya bukti arca Amoghapasa yg dari Kertanagara, sebagai tanda
persahabatan kedua negara. Pada tahun 1284, Kertanagara juga mengadakan
ekspedisi menaklukkan Bali.
Pada
tahun 1289 Kaisar Kubilai Khan mengirim utusan ke Singhasari meminta
agar Jawa mengakui kedaulatan Mongol. Namun permintaan itu ditolak tegas oleh
Kertanagara. Nagarakretagama menyebutkan daerah-daerah bawahan Singhasari di
luar Jawa pada masa Kertanagara antara lain, Melayu, Bali, Pahang, Gurun, &
Bakulapura.
Runtuhnya Kerajaan Singasari
Sebagai sebuah kerajaan, perjalanan kerajaan Singasari bisa dikatakan berlangsung singkat. Hal ini terkait dengan adanya sengketa yang terjadi dilingkup istana kerajaan yang kental dengan nuansa perebutan kekuasaan. Pada saat itu Kerajaan Singasari sibuk mengirimkan angkatan perangnya ke luar Jawa. Akhirnya Kerajaan Singasari mengalami keropos di bagian dalam. Pada tahun 1292 terjadi pemberontakan Jayakatwang bupati Gelang-Gelang, yang merupakan sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besan dari Kertanegara sendiri. Dalam serangan itu Kertanegara mati terbunuh. Setelah runtuhnya Singasari, Jayakatwang menjadi raja dan membangun ibu kota baru di Kediri. Riwayat Kerajaan Tumapel-Singasari pun berakhir.
Peninggalan
1. Candi Singosari
Candi ini berlokasi di Kecamatan
Singosari,Kabupaten Malang dan terletak pada lembah di antara Pegunungan
Tengger dan Gunung Arjuna. Berdasarkan penyebutannya pada Kitab Negarakertagama
serta Prasasti Gajah Mada yang bertanggal 1351 M di halaman komplek candi,
candi ini merupakan tempat "pendharmaan" bagi raja Singasari
terakhir, Sang Kertanegara, yang mangkat(meninggal) pada tahun 1292 akibat
istana diserang tentara Gelang-gelang yang dipimpin oleh Jayakatwang. Kuat
dugaan, candi ini tidak pernah selesai dibangun.
2. Candi Jago
Arsitektur Candi Jago disusun seperti
teras punden berundak. Candi ini cukup unik, karena bagian atasnya hanya
tersisa sebagian dan menurut cerita setempat karena tersambar petir.
Relief-relief Kunjarakarna dan Pancatantra dapat ditemui di candi ini. Sengan
keseluruhan bangunan candi ini tersusun atas bahan batu andesit.
3. Candi Sumberawan
Candi Sumberawan merupakan satu-satunya
stupa yang ditemukan di Jawa Timur. Dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari,
Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Singasari dan digunakan oleh umat
Buddha pada masa itu. Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah karena
terletak di dekat sebuah telaga yang sangat bening airnya. Keadaan inilah yang
memberi nama Candi Rawan.
4. Arca Dwarapala
Arca ini berbentuk Monster dengan ukuran
yang sangat besar. Menurut penjaga situs sejarah ini, arca Dwarapala merupakan
pertanda masuk ke wilayah kotaraja, namun hingga saat ini tidak ditemukan
secara pasti dimanan letak kotaraja Singhasari.
5. Prasasti Manjusri
Prasasti Manjusri merupakan manuskrip yang dipahatkan pada
bagian belakang Arca Manjusri, bertarikh 1343, pada awalnya ditempatkan di
Candi Jago dan sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta
6. Prasasti Mula Malurung
Prasasti Mula Malurung adalah piagam
pengesahan penganugrahan desa Mula dan desa Malurung untuk tokoh bernama
Pranaraja. Prasasti ini berupa lempengan-lempengan tembaga yang diterbitkan
Kertanagara pada tahun 1255 sebagai raja muda di Kadiri, atas perintah ayahnya
Wisnuwardhana raja Singhasari.
Kumpulan lempengan Prasasti Mula
Malurung ditemukan pada dua waktu yang berbeda. Sebanyak sepuluh lempeng
ditemukan pada tahun 1975 di dekat kota Kediri, Jawa Timur. Sedangkan pada bulan
Mei 2001, kembali ditemukan tiga lempeng di lapak penjual barang loak, tak jauh
dari lokasi penemuan sebelumnya. Keseluruhan lempeng prasasti saat ini disimpan
di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
7. Prasastri Singosari
Prasasti Singosari, yang bertarikh tahun
1351 M, ditemukan di Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur dan sekarang
disimpan di Museum Gajah dan ditulis dengan Aksara Jawa.
Prasasti ini ditulis untuk mengenang
pembangunan sebuah caitya atau candi pemakaman yang dilaksanakan oleh Mahapatih
Gajah Mada. Paruh pertama prasasti ini merupakan pentarikhan tanggal yang
sangat terperinci, termasuk pemaparan letak benda-benda angkasa. Paruh kedua
mengemukakan maksud prasasti ini, yaitu sebagai pariwara pembangunan sebuah
caitya.
8. Candi Jawi
Candi ini terletak di pertengahan jalan
raya antara Kecamatan Pandaan - Kecamatan Prigen dan Pringebukan. Candi Jawi
banyak dikira sebagai tempat pemujaan atau tempat peribadatan Buddha, namun
sebenarnya merupakan tempat pedharmaan atau penyimpanan abu dari raja terakhir
Singhasari, Kertanegara. Sebagian dari abu tersebut juga disimpan pada Candi
Singhasari. Kedua candi ini ada hubungannya dengan Candi Jago yang merupakan
tempat peribadatan Raja Kertanegara.
9. Prasasti Wurare
Prasasti Wurare adalah sebuah prasasti
yang isinya memperingati penobatan arca Mahaksobhya di sebuah tempat bernama
Wurare (sehingga prasastinya disebut Prasasti Wurare). Prasasti ditulis dalam
bahasa Sansekerta, dan bertarikh 1211 Saka atau 21 November 1289. Arca tersebut
sebagai penghormatan dan perlambang bagi Raja Kertanegara dari kerajaan
Singhasari, yang dianggap oleh keturunannya telah mencapai derajat Jina (Buddha
Agung). Sedangkan tulisan prasastinya ditulis melingkar pada bagian bawahnya.
10. Candi Kidal
Candi Kidal adalah salah satu candi
warisan dari kerajaan Singasari. Candi ini dibangun sebagai bentuk penghormatan
atas jasa besar Anusapati, Raja kedua dari Singhasari, yang memerintah selama
20 tahun (1227 - 1248). Kematian Anusapati dibunuh oleh Panji Tohjaya sebagai
bagian dari perebutan kekuasaan Singhasari, juga diyakini sebagai bagian dari
kutukan Mpu Gandring.










